Berteman adalah hal yang sangat menyenangkan. Akan tetapi, akan sangat berbahaya apabila kita tak pandai-pandai mencari teman. Berapa banyak teman kita, kenalan kita, orang di sekitar kita yang tadinya berakhlak mulia namun berubah 180 derajat menjadi orang-orang yang hari-harinya dipenuhi dengan kemaksiatan hanya karena salah bergaul, salah memilih teman, salah memilih sahabat. Teman yang berakhlak kurang baik secara sengaja maupun tidak
sengaja akan membawa kita ke dalam pola hidup mereka yang kurang baik pula. Bagi mereka yang sengaja, memang mereka telah memiliki motivasi ataupun visi tertentu karena dengan berubahnya kita menjadi seperti mereka mereka akan mendapatkan keuntungan-keuntungan tertentu baik yang materi maupun non-materi. Sedangkan mereka yang tidak sengaja, kita terbawa mereka memang karena kita terlalu lama bergaul sehingga secara tidak sadar kita terbiasa dengan kehidupan/perbuatan yang kurang terpuji sehingga pelan-pelan kita akan membenarkan mereka. Padahal menolak suatu kemungkaran dengan hati adalah selemah-lemahnya iman.
"Saya mendengar Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman'." (HR. Muslim)
Apakah membenarkan suatu hal yang mungkar dapat dikatakan seseorang itu masih memiliki iman? Dari membenarkan kemungkaran inilah, secara perlahan namun pasti kita akan mengikuti kebiasaan/perbuatan-perbuatan mereka.
"Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian." (HR. Abu Daud)
Sedangkan sebaliknya, dengan bergaul dengan teman-teman yang sholeh/ah akan membawa kita ke dalam lembah kebaikan, lembah penuh rahmat, lembah penuh hidayah dan rahmat, lembah di mana setiap hembus nafas kita dapat melahirkan butir-butir pahala yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang
jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai
besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa
membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai
besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar,
minimal engkau dapat baunya yang tidak enak." (HR. Bukhari)
(Gambar: Akh Widi, Akh Juni, Akh Radian, Akh Hayang, Akh Andy)